MERBABU, How I Miss You..
"It is not the mountain we conquer, but ourselves " -Edmund Hillary-
Alarm berbunyi memekakan telinga. Segera kuraih Handphone
kesayangan. Ah, masih jam 4 pagi. But,
This is the day. Yup. hari ini saya berencana mendaki Gunung Merbabu
bersama teman saya Yoga. Bisa dibilang pendakian ini juga sarana refreshing
temen saya karena dia disibukkan oleh tetek bengek urusan pernikahannya yang
sebentar lagi di gelar, hahaha.
Bergegas saya bangun dari tempat tidur saya dan memulai packing.
Satu persatu saya masukkan peralatan yang akan dibawa ke dalam Carrier
Cozmeed Chumbu Step X60 kesayangan. Setelah dirasa semua masuk carrier,
saatnya mandi dan menunggu teman saya.
Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB dan teman saya telah datang
menjemput. Ngobrol ngalor ngidul sampai lupa kalau kita harus berangkat. Tepat
pukul 10.30 WIB kami berangkat. Oh iya, rencananya kami akan mendaki Gunung
Merbabu via Selo. Kami pacu motor kami dari Yogyakarta melewati Muntilan dan
tak terasa sampailah kami di Basecamp Selo. Urus retribusi, cek alat lagi, and the adventure begin.
Kami memulai pendakian pukul 13.30 WIB. Perjalanan kami mulai
dengan melewati gerbang pendakian Merbabu jalur selo. Kami terus berjalan
melewati hutan pinus. Jalan yang kami lalui terbilang jelas dan tidak terlalu
terjal. Karena ini weekend, kami banyak menemui pendaki lain.
Setelah berjalan sekitar 90 menit, kami sampai di Pos 1. Pos ini
bernama Pos Dok Malang. Pos ini berupa sebidang tanah yang cukup menampung
sekitar 4 tenda. Setelah beristirahat sebentar, perjalanan kami lanjutkan lagi.
Perjalanan ke pos selanjutnya masih melewati hutan yang cukup lebat. Hal ini
membuat udara sejuk walaupun di siang hari yang panas. Di tengah perjalanan
kami berpapasan dengan sepasang pendaki yang kami kira berumur sekitar 60 an
tahun. Salut buat mereka. Hehe. Kami juga menemui dua orang pesepeda downhill
gila yang mendaki membawa sepeda mereka, yang ternyata adalah temannya teman
kami, hahaha, dunia memang sempit. Satu jam kami berjalan dan akhirnya sampai
juga di pos 2 yang bernama Pos Pandean. Pos 2 ini luas nya lebih sempit dari
pos 1.
Lanjut perjalanan ke pos selanjutnya. Meninggalkan pos 2, kami
mulai keluar dari hutan dan melewati batas vegetasi hutan hujan. Kami mulai
dapat melihat banyak bunga Edelweiss dan buah arbei liar. Jalan yang kami
lewati mulai menanjak namun terbayar dengan pemandangan yang indah di kanan
kiri.
jalan ke pos 3
Pada perjalanan kali ini saya membawa carrier Cozmeed Chumbu Step X60. Bentuknya yang unik membuat saya tertarik
membelinya. Selain itu, fitur front loading nya juga membuat saya penasaran dan
tertarik membeli carrier berwarna merah ini. Benar saja, fitur ini sangat
membantu di saat packing dan mengambil barang. Walaupun tidak memungkinkan
untuk di masuki matras dengan cara digulung di dalam carrier, saya tak
kehabisan akal. Akhirnya saya membawa matras alumunium yang malah menjadi
keuntungan karena lebih ringan dari matras gulung. Selain fitur front loading,
hal lain yang saya suka adalah back system nya yang berupa mesh atau jarring
yang sangat nyaman di punggung. Punggung tidak terasa panas dan berkeringat
karena sirkulasi udara menjadi lancar. Back system berupa mesh ini juga
mempunyai fungsi lain yaitu untuk menyelipkan jaket. Hehe. Bentuk carrier ini
juga menyesuaikan bentuk punggung manusia. Jadi ketika dibawa akan terasa
nyaman dan lebih ringan. Total saya membawa 15 kilogram dan masih terasa
ringan. Banyak juga gantungan gantungan yang bisa di gunakan untuk menggantung
printilan printilan bawaan. Gantungan tracking pole saya gunakan untuk membawa
sampah turun.
back system nya asik banget. ga bikin gerah dan bisa buat nyelipin jaket
Setelah berjalan sekitar 30 menit, kami akhirnya sampai di pos 3
atau pos watu tulis. Pos 3 ini berupa tanah datar yang luas sehingga dapat
didirikan banyak tenda. Selain itu kita juga dapat melihat gagahnya merapi dari
pos ini. Pohon edelweiss tegak berdiri di sekitar pos 3, menambah indah
pemandangan yang dipampangkan oleh alam. Kami memutuskan untuk membangun tenda
disini.
Selesai membangun tenda, lanjut pasang matras, ganti baju kemudian
kami mulai masak. Memang perjalanan yang berat telah menguras energi hinga
harus di isi ulang. Kami keluarkan nesting, kompor dan bahan makanan. Menu
makan malam kali ini adalah ayam goreng dan nasi goreng, yummmyyy. Saya memang
membawa ayam yang yang sudah diungkep untuk kemudian di goreng disini (terima
kasih untuk istri saya yang telah mau membumbui ayamnya. Hihihi). Yoga yang
bertugas memasak makanan. Ada yang bilang kalau di gunung, laki-laki adalah
koki yang handal. Memang benar, karena masakan Yoga tak kalah enaknya dari
masakan cewek.
makan malamnya enaak
Matahari perlahan bersembunyi ke peraduannya, menandakan hari
telah berganti malam. Udara panas sejuk berganti dingin menusuk tulang. Waktu yang
tepat untuk menyeduh kopi. Kebetulan kami membawa biji kopi yang sudah di sangrai.
Biji kopi ini berasal dari Desa Lencoh, Kecamatan Selo, masih satu kecamatan
dengan Basecamp pendakian Gunung Merbabu. Selesai ngopi saatnya tidur. Istirahat
yang cukup untuk persiapan muncak keesokan harinya.
Udara malam di Gunung Merbabu kala itu begitu dingin disertai
angin yang bertiup kencang sepanjang malam. Sempat saya terbangun dan melihat thermometer
menunjukkan angka 9,5 derajat celcius. Pukul 4 pagi saya bangunkan yoga untuk
memulai summit ke puncak. Selesai berdoa kami langkahkan kaki di tengah
dinginnya udara pagi yang menusuk tulang. Track yang terjal sudah menunggu kami
di depan sana. Menurut saya, track ini merupakan yang tersulit dari semua track
jalur Selo. Kami melangkah sedikit demi sedikit. Rasanya tanjakan ini tak ada
habisnya, tetapi mentari pagi yang perlahan muncul menjadi pemicu semangat kami
untuk terus berjalan. Setelah 30 menit berjalan di tanjakan yang terjal
sampailah kami di pos 4 atau Sabana 1. Sesampai di sabana 1, kami disambut oleh
sunrise yang indah. Tampak di kejauhan Gunung Merapi dan Gunung Lawu begitu
gagah berdiri menjulang. Kami berdiri sejenak untuk foto-foto dulu.
Sabana 1 ini berupa tanah lapang yang luas. Di beberapa sudut terdapat
bukit kecil yang ditumbuhi tumbuhan edelweiss. Dari sabana 1 ini kita juga
sudah bisa melihat hamparan sabana luas yang membentang indah. Tak bosan mata
ini melihat karya Tuhan yang luar biasa.
Tak terasa matahari sudah tak malu lagi menampakkan wujudnya. Udara
hangat mulai terasa. Saatnya melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Sepanjang
perjalanan ke pos Sabana 2, kami disuguhi pemandangan yang membuat kami tidak
berhenti berdecak kagum. Pos Sabana 1 terlihat begitu indah dari track ini. Jalur
yang kami lewati tidak begitu terjal. Namun hembusan angin sangat terasa karena
ini adalah medan terbuka. Kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai
pos Sabana 2. Pos Sabana 2 terletak di pinggir sabana luas. Para pendaki
biasanya mendirikan tenda di bawah pohon untuk melindungi dari terpaan angin
kencang.
Jalur selanjutnya adalah jalur menuju puncak triangulasi. Track
yang kami lalui masih menanjak. Di kanan kiri track bunga edelweiss tumbuh
subur. Dari track ini, kita bisa melihat hamparan sabana yang luas membentang
indah dan gunung merapi yang berdiri gagah. Sekitar 90 menit berjalan,
sampailah kami di Puncak Triangulasi. Kibaran Bendera Merah Putih menyambut
kami. Ah, semua rasa letih lelah terbayar lunas dengan pemandangan indah yang
disajikan alam raya. Tampak Gunung Merapi berdiri gagah dan terasa sangat
dekat. Gumpalan awan terlihat bergitu jelas. Tak berhenti mulut ini mengucapkan
Subhanallah. Terimakasih Tuhan telah kau ciptakan bumi Nusantara yang begitu
indah.
Setelah puas berfoto di puncak. Kami turun kembali ke tenda untuk
sarapan dan bersiap turun Gunung.
Sedikit tips mendaki Gunung Merbabu via Selo.
·
Bawalah air yang cukup karena jalur selo
tidak terdapat mata air. Kami membawa sekitar 7,5 liter air dan sangat cukup
untuk konsumsi sampai turun ke basecamp
·
Saat udara kering dan berdebu bawalah
lipgloss. Serius. Ini bener-bener membantu agar bibir tidak kering.
·
Untuk mengatasi debu dan udara kering,
pakailah buff atau masker yang di basahi air untuk menyaring debu.
·
Jangan lupa bawa turun kembali sampah anda,
karena gunung bukan tempat sampah. Ingat ya, leave no trace.
·
Ketika mendaki musim kemarau dimohon tidak
menyalakan api unggun supaya tidak menimbulkan kebakaran hutan.










Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMas, tenda bisa masuk tas ini (chumbu step) nggak?
BalasHapus